Pendidikan Karakter Dimulai dari Keluarga

  1. Pendahuluan

Bung Karno dulu sering sekali berbicara tentang perlunya upaya “nation and character building”. Pada waktu itu sebagai anak SMP, saya tidak memahami arti penting dari pidato BK itu. Tetapi setelah beberapa puluh tahun negara RI merdeka, baru kita menyadari betapa mendasarnya gagasan BK itu setelah kita menyaksikan bagaimana lemahnya karakter bangsa kita.

Syukur belakangan ini Mendiknas Prof Nuh sangat peduli terhadap pembinaan karakter. Dia mengatakan bahwa pendidikan saat ini terlalu mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak dan pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa didalam diri siswa semakin terpinggirkan. Rapuhnya karakter dan budaya dalam kehidupan berbangsa bisa membawa kemunduran peradaban bangsa. Padahal kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu bangsa.

Menurutnya, diantara karakter yang ingin kita bangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran. Tetapi kita dihadapkan dengan kenyataan yang berbeda dalam masyarakat. Oleh Mendiknas hal itu disebut sebagai fenomena sirkus. Fenomena inomali yang paradoksal. Penegak hukum ternyata dihukum, pendidik malah harus dididik,  pejabat malah minta dilayani.

Tampaknya pendidikan karakter kini menjadi isu utama pendidikan. Didalam lingkungan kemendiknas, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinanya. Dimana-mana diadakan diskusi atau seminar tentang masalah tersebut. Wamendiknas mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku, melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran.

Seorang tokoh mengatakan bahwa apabila kita kehilangan harta maka kita tidak kehilangan apa-apa; kalau kita kehilangan kesehatan maka kita akan kehilangan sesuatu; kalau kita kehilangan karakter maka kita akan kehilangan segala-galanya. Pemimpin pasukan AS dalam Perang Gurun mengatakan bahwa kalau harus memilih kemampuan menyusun strategi dengan karakter, dia akan memilih karakter.

Kemendiknas telah mengadakan kerja sama dengan berbagai pihak untuk bisa memperoleh metode yang tepat dalam upaya membentuk karakter para anak bangsa. Tentu metode itu tidak bisa diperoleh secara langsung sekali jadi, harus melalui proses bertahap dengan melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan terhadap hasil yang sudah dicapai.

  1. B.   Apa yang dimaksud dengan karakter?

Thomas Lickona dalam bukunya yang terkenal “Educating for Character” (1991) menyimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja untuk menolong orang agar memahami, peduli akan, dan bertindak atas dasar inti nilai- nilai etis. Dia menegaskan bahwa ketika kita berpikir tentang bentuk karakter yang ingin ditunjukkan oleh anak-anak, teramat jelas bahwa kita menghendaki mereka mampu menilai apa yang benar, peduli tentang apa yang benar serta melakukan apa yang diyakininya benar – bahkan ketika harus menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam. Dalam upaya itu, para siswa bisa mengidentifikasi perilakunya dengan watak para pahlawan dalam kesusatraan.  Tentu juga bisa dari watak para tokoh panutan dalam keagamaan dan juga sejarah bangsa.

Yahya Muhaimin mengatakan bahwa nilai-nilai yang ditumbuhkembangkan dalam diri siswa berupa nilai-nilai dasar yang disepakati secara nasional yang didasarkan pada agama dan kenegaraan. Misalnya : kejujuran, dapat dipercaya, kebersamaan, toleransi, tanggung jawab, kepedulian. Franz Magnis Suseno mengatakan, yang dibutuhkan bukan hanya karakter kuat, tetapi juga benar positif dan konstruktif. Namun untuk membentuk anak-anak didik yang berkarakter kuat, tidak boleh ada feodalisme para pendidik. Jika mereka membuat anak didik menjadi manutan dengan nilai-nilai tenggang rasa dan tidak membantah, karakter anak tidak akan berkembang. Kalau kita mengharapkan karakter, anak itu harus diberi semangat dan didukung agar anak itu menjadi pemberani, mengambil prakarsa, berani berbeda pendapat. Dia harus diajarkan berpikir sendiri.

Josephson Institute of Ethics merumuskan enam pilar utama yang membentuk karakter. Pilar pertama ialah trustworthiness, dapat dipercaya. Sebisanya, mulai dipupuk sejak anak berusia 4-6 tahun. Tidak bohong dan berani membela kebenaran inilah karakter yang paling dasar dan paling utama. Pilar kedua adalah responsibility atau tanggung jawab, yang sebaiknya mulai diajarkan sejak usia 6 tahun. Disini ditanamkan sikap disiplin dan punya tanggungjawaba terhadap pilihan yang diambil, untuk berpikir sebelum bertindak dan mempertimbangkan konsekwensinya.

Ketiga adalah respect. Disini anak kita biasakan memperlakukan orang lain dengan hormat. Mengikuti prinsip “perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan”. Berlakulah sopan dan jangan meluaki persasaan orang lain. Sikap ini perlu mulai ditanamkan sejak usia 9-11 tahun.

Keempat adalah fairness. Anak-anak usia 11-13 tahun perlu mulai menjiwai pilar ini agar belajar untuk mengikuti peraturan yang berlaku, tidak berprasangka dan tidak sembarangan menyalahkan orang lain dan juga berbagi dengan sesama.

Kelima adalah “caring” (peduli), yang harus mulai diterapkan sejak masa remaja. Inti pilar ini ialah bertindak dengan ramah dan peduli pada orang lain, memaafkan orang lain serta membantu mereka yang kesulitan.

Pilar keenam ialah citizenship, yang dibangun sejak meninggalkan masa remaja dan mulai menjadi dewasa. Pilar ini mengenai bagaimana berperanserta aktif dalam mengembang- kan komunitas kita, bekerja sama dan bertetangga dengan baik, mematuhi hukum dan aturan serta mengehargai otoritas.

Masih ada beberapa karakter positif yang belum tercakup dalam uraian singkat diatas. Beberapa diantaranya dapat disebut disini, antara lain hemat, punctual (teliti, tepat waktu), berani bersikap dan tidak oportunis, harga diri, komitmen, menghormati perbedaan, ketulusan, keberanian, ketegasan dan tidak peragu, ingin berbuat sebaik mungkin. Ada suatu nilai yang jarang disebut  tetapi dikatakan oleh beberapa tokoh pendidikan, yaitu tahu batas kemampuan. Tetapi unsur utama  karakter ialah kejujuran. Kalau tidak ada kejujuran, maka karakter lain akan tidak bermakna. Dalam konteks kehidupan masyarakat, trust atau rasa saling percaya amat diperlukan.

Kita melihat bahwa beberapa bangsa mempunyai keunggulan dibanding bangsa lain. Hal itu terlihat didalam banyak hal. Salah satunya ialah dalam prestasi olahraga, khususnya sepak bola. Bangsa Jerman mempunyai daya tahan dan daya juang serta disiplin tinggi. Bangsa Jepang, Korea dan China menunjukkan karakter bangsa yang kuat. Negara seperti Indonesia ini oleh Gunnar Myrdal sebagai soft-state atau soft-nation.

Sebuah rombongan guru dari SMA Islam melakukan peninjauan ke Australia dan mendapatkan temuan bahwa pendidikan kejujuran amat diperhatikan. Kalau ada siswa tertangkap saat “nyontoh” dalam ulangan atau ujian, maka dia akan diberi peringatan keras dan orangtuanya akan dipanggil. Kalau diulangi lagi maka dia akan dikeluarkan dari sekolah. Disini dalam UN, banyak guru sekolah swasta yang membantu siswanya dalam ujian supaya tingkat kelulusan sekolah itu tinggi.

  1. Topik dialog “Pendidikan Karakter, berbasis Pesantren”,  memberi kesan bahwa pesantren dianggap punya potensi besar dalam pembinaan akhlak yang identik dengan pembinaan karakter, bahkan mungkin dianggap berhasil. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantren dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pendidikan karakter. Anggapan itu menurut saya tidak seluruhnya benar.

Pesantren serta madrasah didalamnya memang memberikan pendidikan akhlak. Tetapi upaya itu lebih tepat disebut sebagai pengajaran, bersifat kognitif. Itu sebenarnya baru pada tahap awal yaitu pengenalan nilai-nilai luhur yang diutamakan didalam akhlak menurut agama Islam. Belum sampai kepada proses internalisasi nilai itu yang bersifat afektif, apalagi proses menanamkan nilai-nilai itu kedalam diri anak didik sehingga akan menjadi prinsip yang akan tetap dipegangnya didalam kehidupan. Pengajaran agama seperti itu akan menghasilkan anak didik yang mendapat angka bagus dalam ulangan atau ujian, tetapi belum tentu akhlak atau perilakunya sebaik angka ujiannya. Pada sejumlah pesantren  ada pengikut thoriqot yang melakukan riyadhoh khusus untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dan untuk membersihkan jiwa. Mereka ini secara umum berprilaku dan berakhlak baik . Sayangnya ada sejumlah pimpinan jama’ah thoriqot yang bergabung dengan partai politik, padahal secara alami partai politik itu bertentangan dengan hakikat thoriqot

Banyak yang berpendapat bahwa kita terlalu berharap banyak pada pendidikan agama seperti yang kita praktekkan sekarang, kalau kita ingin memperbaiki karakter bangsa. Kita masih melihat bahwa banyak alumni pesantren tidak banyak bedanya dengan   alumni sekolah non-agama. Keterlibatan banyak alumni pesantren pada P2SEM yang sebagian besar fiktif, bisa menjadi indikator. Adanya praktek politik uang dalam pemilihan umum, pilkada oleh tokoh alumni pesantren, bahkan dalam pemilihan orpol dan ormas Islam, juga menjadi indikator bahwa pengajaran agama seperti saat ini perlu mendapat evaluasi dan kritik tajam untuk bisa diperbaiki.

Tidak mudah untuk meyakinkan kalangan pesantren tentang apa yang ditulis dalam beberapa alinea diatas. Kita perlu belajar dari beberapa negara yang menurut ukuran kita mungkin tidak disebut sebagai negara religius, yaitu negara sekuler tetapi dalam perilaku sosial dan praktek profesional mereka menunjukkan akhlak sosial dan akhlak profesional yang lebih tinggi dibanding kita yang sering mengaku sebagai bangsa religious.

Kita perlu belajar dari bangsa Jepang tentang akhlak kejujuran. Tampaknya kini masih berlaku pendapat Mohammad Abduh sepulang dari Eropa pada awal abad 20 yang mengatakan bahwa di Eropa dia tidak melihat orang Islam tetapi dia melihat (perilaku sosial) Islam dan di Timur Tengah dia melihat orang Islam tetapi tidak melihat masyarakat Islami. Bangsa Jepang mempunyai istilah kaizen yang punya makna : “besok harus lebih baik dari pada hari ini”. Kita  mengenal hadits yang bernada sama, tetapi bangsa Jepang mewujudkannya dalam kehidupan nyata. Bangsa Jepang secara umum menunjukkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang gagal kita wujudkan.

Bangsa Jepang dan banyak bangsa lain betul-betul berjuang untuk memperbaiki diri supaya mempunyai hari esok yang lebih baik, dan kita tidak sekeras dan segigih mereka dalam berjuang untuk hari esok yang lebih baik.

Salah satu yang bisa dipelajari ialah bangsa Turki yang dalam waktu 30 tahun terakhir bisa memperbaiki diri dari bangsa yang tidak percaya pada peran agama dalam membangun dunia menuju bangsa yang agamis dalam hubungan vertikal dan juga hubungan horizontal. Mereka secara perlahan bisa mengurangi perilaku korup dari para birokrat dan politisi dan membagi kesejahteraan ekonomi yang semula terpusat pada kalangan tertentu saja.

Sebuah jaringan umat Islam Turki yang diilhami oleh Fethullah Gulen telah berhasil mendirikan > 1200 sekolah Turki di seluruh dunia termasuk AS dan Eropa. Mereka telah membantu umat manusia apapun agamanya di seluruh dunia yang tengah menderita akibat bencana alam. Mereka tidak berbicara tentang Islam Rahmatan Lil Alamin, tetapi menerapkannya dalam kehidupan.

  1. Bagaimana sebaiknya cara kita melakukan pembinaan karakter itu? Menurut Prof Mochtar Buchori, pendidikan karakter seharusnya membawa anak ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif dan akhirnya sampai pada pengamalan secara nyata. Istilah pedagogiknya, dari gnosis sampai ke praksis. Untuk sampai kepada praksis perlu ada proses batin yang harus terjadi dalam diri anak yaitu munculnya keinginan yang amat kuat yaitu tekad untuk mengamalkan nilai tersebut. Peristiwa ini disebut conatio dan langkah  untuk membimbing anak membulatkan tekad itu disebut konatif. Oleh Ki Hajar Dewantara proses itu diterjemahkan dengan kata-kata cipta, rasa dan karsa.

Menurut Dr Doni Koesoema, penulis buku “Pendidikan Karakter”, pendidikan karakter jika ingin efektif dan utuh, harus menyertakan tiga basis dalam pemogramannya. Pertama, desain pendidikan karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar didalam kelas. Relasi guru dan siswa bukan monolog tetapi dialog dengan banyak arah. Keduan desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu dan terbatinkan dalam diri siswa. Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan pesan-pesan moral kepada anak didik. Pesan moral itu harus diperkuat dengan penciptaan kultur kejujuran melalui pembuatan peraturan sekolah yang tegas dan konsisten serta konsekwen terhadap setiap perilaku ketidakjujuran.

Ketiga, desain pendidikan berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berdiri sendirian. Masyarakat diluar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum dan negara juga memiliki tanggungjawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. Ketika lembaga negara lemah dalam penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah tidak pernah mendapatkan sanksi yang setimpal, negara telah mendidik masyarakatnya untuk menjadi manusia yang tidak menghargai makna tatanan sosial bersama. Ketika masyarakat termasuk siswa mengetahui bahwa para jenderal polisi mempunyai dana dalam jumlah amat sangat besar, mereka dididik untuk berpendapat bahwa kekuasaan itu bisa disalahgunakan.

Pendidikan karakter hanya akan bisa efektif jika tiga desain pendidikan karakter diatas dilaksanakan secara bersamaan dan sinergis. Tanpanya, pendidikan kita hanya akan bersifat parsial, inkonsisten dan tidak efektif.

Rusworth Kidder menjelaskan tujuh kualitas yang diperlukan untuk suatu program pendidikan karakter yang berhasil, yang disebutnya sebagai “seven E’s”.

  1. Empowered (pemberdayaan)

Guru-guru harus diberdayakan untuk melakukan pendidikan karakter. Opini publik menunjukkan dukungan yang luas bagi pendidikan karakter di sekolah dan kita harus meyakinkan para guru bahwa mereka sanggup melakukannya.

2. Effective.

Adalah mungkin untuk mengajarkan pendidikan karakter secara efektif. Kidder menyatakan bahwa “kita memiliki segala bukti bahwa ketika kita melakukan intervensi dalam proses pendidikan karakter, siswa menjadi mengerti tentang banyak hal yang sebelumnya tidak mereka pahami. Proses pendidikan yang diberikan benar- benar meningkatkan kemampuan penalaran moral mereka.

  1. Extended into the community.

Komunitas harus menolong sekolah untuk memahami nilai-nilai yang penting lantas mendukung program-programnya. “Jangan pernah mencoba menyusun program pendidikan karakter tanpa melibatkan komunitas terlebih dahulu, karena tatkala kita mulai menjalankan program, akan ada suara nilai-nilai siapa yang diajarkan?”

4. Embedded (melekat).

“Jangan memberikan pendidikan karakter secara terpisah, jangan menciptakan semacam ghetto etik yang menempatkan pendidikan karakter pada suatu sudut kurikulum. Integrasikan hal itu kedalam seluruh rangkaian kurikulum dan proses pembelajaran. Guru tidak punya kemewahan waktu untuk mengajar mata pelajaran etik tersendiri, tetapi mereka bisa memberikan pesan etik pada setiap mata pelajaran.”

5. Engaged (terlibat).

“Buatlah komunitas terlibat dengan menyodorkan topik-topik yang mereka anggap sangat penting. Publik pada saat ini amat peduli pada soal-soal seperti sortmanship dan sportifity, penipuan dan teknologi. Tatkala guru mengajarkan ketrampilan komputer pada anak-anak, pertama-tama bicarakanlah segi-segi etik dalam menggunakan komputer, dst”.

6. Epistemolgical (epistemologi).

“Kembangkan kerangka konseptual, suatu cara untuk membicarakan soal etika. Berbuat lebih banyak ketimbang mengumpulkan anak-anak berbincang soal ide-ide moral. Mesti ada koherensi antara cara berpikir tentang makna etik dengan upaya menolong siswa untuk mampu menerapkannya secara baik”.

7. Evaluative.

Buatlah beberapa struktur, seperti pre-tests dan post-tests, yang memungkinkan guru memetakan kemajuan siswa. Kidder menawarkan “skala lima poin” yang bermula dari (1) kesadaran etik, lalu (2) kepercayaan diri untuk berpikir tentang dan membuat keputusan etik, kemudian (3) kapasitas untuk menggunakan kepercayaan diri itu secara praktis dalam kehidupan seseorang, lalu (4) kapasitas untuk menggunakan pengalaman itu dalam komunitas, dan akhirnya (5) kapasitas untuk menjadi agen perubahan – untuk merealisasikan gagasan-gagasan etik ini dan menciptakan dunia yang berbeda.

Di Pesantren Tebuireng, upaya membentuk karakter baru pada tahap awal. Kami mencoba mengambil inti sari dari nilai-nilai yang diwariskan oleh Pendiri Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asy’ari yang tercantum dalam buku-buku karya beliau. Setelah melalui pembahasan, kami menampilkan 5 nilai yang akan kami coba untuk ditanamkan kedalam diri para santri. Kelima nilai itu adalah : ikhlas, jujur, kerja keras, tanggung jawab dan tasamuh. Tasamuh adalah sikap lapang hati, peduli, toleran, anti kekerasan. menghargai perbedaan dan menghargai hak orang lain.

Tentu masih banyak nilai-nilai lain yang positif dan perlu ditanamkan kedalam diri santri. Misalkan : sikap adil, rasa malu, percaya diri, komitmen disiplin, keberanian, harga diri, motivasi, berpikir positif, berbaik sangka, kesederhanaan, rendah hati, hemat, teliti. Nilai-nilai tersebut dapat dimasukkan atau digabungkan kedalam  lima nilai di atas.

Kami akan belajar kepada pihak lain tentang bagaimana cara yang efektif untuk bisa berhasil menanamkan nilai yang telah kami ambil dari warisan KH Hasyim Asy’ari. Kami juga akan mencoba mencari dan mengembangkan cara yang tepat dalam menanamkan nilai-nilai diatas. Diharapkan dalam beberapa bulan kedepan kami sudah bisa menemukan cara yang tepat untuk bisa memulai pendidikan karakter itu. Tentu akan selalu dilakukan proses evaluasi dan perbaikan. Sejauh ini untuk sesuatu yang bersifat nahi munkar sudah cukup berhasil dilakukan, tetapi yang bersifat amar ma’ruf belum banyak yang telah dicapai.

E. Penutup.

Kita bersyukur bahwa Kemendiknas dan Presiden  menaruh perhatian besar terhadap pembinaan karakter. Kita harapkan kesadaran itu akan tumbuh menjadi kesadaran nasional. Tetapi kita juga harus sadar, bahwa kita sering sekali hangat-hangat tahi ayam. Kita juga paham bahwa banyak konsep yang baik ternyata dalam implementasinya tidak seperti yang diharapkan. Kita layak kuatir bahwa kebijakan pendidikan karakter itu akan mengalami nasib sama dengan kebijakan lain, akan menjadi semacam proyek yang hanya menghabiskan anggaran tetapi belum tentu mencapai apa yang diinginkan.

Kisah sukses dalam upaya membentuk karakter terhadap sebuah komunitas, banyak dilakukan didalam perusahaan yang telah berhasil memperbaiki budaya organisasinya. Banyak kisah sukses seperti itu yang bisa kita jadikan acuan dan juga sebagai contoh, baik di DN maupun di LN. Kita juga perlu mencari tahu adanya sejumlah lembaga atau yayasan yang telah melakukan uji coba pendidikan karakter di beberapa lembaga pendidikan.

Kejujuran adalah unsur utama dari karakter. Tanpa kejujuran, karakter unggul yang lain menjadi kurang berarti. Kejujuran adalah dasar bagi seluruh kehidupan. Hal itu merupakan prasyarat utama bagi pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang dan tolong menolong. Tanpa rasa saling percaya, tidak mungkin kita menggerakkan perekonomian dan perdagangan secara produktif dan tidak mungkin kita mewujudkan masyarakat yang aman dan sejahtera. Prasangka adalah ciri menonjol dari masyarakat yang tidak memegang teguh kejujuran.

Pendidikan kejujuran dimulai sejak kecil di rumah. Pasti para orang tua selalu memberi nasehat kepada putra-putri tentang kejujuran, tetapi mungkin kurang efektif karena nadanya seperti khotbah. Kita perlu menggali pelajaran dari kisah keluarga Indonesia yang berhasil menanamkan kejujuran tidak dengan petuah, tetapi melalui peristiwa-peristiwa kecil dalam kehidupan keluarga.

Mungkin tayangan Kick Andy perlu mengangkat kisah-kisah keberhasilan dalam menanamkan kejujuran. Sebagian besar rakyat Indonesia masih jujur. Kampanye dalam skala besar dan terus menerus tentang pentingnya kejujuran dan keberhasilan dalam perjuangan menanamkan kejujuran perlu dilakukan. Sejumlah kecil sekolah berhasil dalam mengelola kantin kejujuran, kantin tanpa penjaga yang dimaksudkan untuk menanamkan kejujuran.

Sejumlah kawan pernah mengadakan kompetisi kejujuran diantara siswa. Dicari siswa paling jujur menurut penilaian kawan-kawan satu kelas, lalu satu sekolah, satu desa dan seterusnya. Kalau kita menganggap bahwa kejujuran itu kurang penting untuk diperjuangkan, kita tinggal menunggu kehancuran bangsa Indonesia, cepat atau lambat.

Cukup banyak sekolah yang mengadakan kantin kejujuran, tetapi tidak banyak yang berhasil. Kita perlu mencatat apa penyebab kegagalan dan apa yang mendukung keberhasilan. Selanjutnya kita perlu mendorong peningkatan jumlah sekolah yang mendirikan kantin kejujuran, tetapi harus realistis. Kalau yang belum layak jangan dipaksakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s